Cerita Inspirasi (Heru Hermanto)
Namanya adalah Heru Hermanto, pertama kali aku bertemu dengannya di salah satu SMA swasta di Bogor. Saat itu adalah hari pertama kali kami masuk sekolah, dan kebetulan kami sekelas, tepatnya di kelas 10-4. Kesan pertama aku melihatnya ia adalah seorang anak yang lumayan cerdas dan terbuka, oleh karena itu tak salah jika saat itu aku mendekatinya dan berteman dengannya, kami pun duduk sebangku hingga tiga tahun lamanya, di kelas yang sama dan jurusan yang sama pula dari kelas 10 hingga kelas 12 IPA 1.
Ada beberapa hal menarik yang dapat kuceritakan tentang temanku itu, yang pada akhirnya telah memberi inspirasi kepadaku. Inspirasi seperti apa itu, aku akan menceritakannya segera pada tulisan ini.
Pada dasarnya aku adalah seorang yang pemalas, namun karena aku berada di tempat (lingkungan) yang begitu dapat memotivasiku secara ilmiah hari demi hari, baik itu motivasi yang diberikan guru, kepala sekolah, pengalaman pribadi, acara motivasi di TV (MTGW), juga yang tak kalah penting adalah motivasi alami dari seorang teman yang bernama Heru Hermanto yang kini melanjutkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi negri di Bogor. Karena motivasi dari mereka akhirnya kepribadianku terbentuk di sekolah ini, mereka telah banyak memberikan contoh-contoh positif dalam kesehariannya, meskipun tak menapik kemungkinan di sekolah ini banyak juga contoh buruknya yang tidak dapat kusebutkan. Si pemalas sepertiku ini akhirnya termotivasi untuk menjadi yang terbaik! Tidak susah, kuncinya hanya 2, yakni keinginan dan tekad yang bulat serta teguh, kemudian kemampuan untuk mengikuti suara hati nurani.
Satu smester berlalu, pada periode itu aku berhasil menjadi yang terbaik dalam pelajaran kimia, 95 adalah angka tertinggiku di lembar raport sementara itu. 2 kunci sukses tadi telah kupergunakan dengan baik hingga mencapai kesuksesan di smester pertama ini. Lalu apa yang terjadi dengan Heru, ia pun sama denganku, tak berbeda jauh.
Namun pada smester berikutnya baru terlihat di mana perbedaan antara orang yang kesuksesannya dapat dicapai dengan motivasi dengan orang yang kesuksesannya dicapai dengan kebiasaan.
Seperti ceritaku di atas, pada dasarnya aku adalah seorang pemalas, bukan seorang yang bodoh. Yang jika dimotivasi maka aku akan bangkit dan bekerja keras. Namun Heru teman sebangku ku saat itu, aku mengenalnya sebagai orang yang biasa tanpa motivasi apapun di hidupnya, namun aku mengenalnya sebagai orang yang memiliki kebiasaan “mengerjakan dan menyelesaikan segala tugas”, kebiasaan inilah yang pada akhirnya membawanya menuju kesuksesan hingga akhir gerbang pendidikan SLTA.
Bayangkan saja jika orang sepertiku ini dipercaya sebagai orang yang bertugas mengumandangkan adzan 5 kali dalam sehari, maka 5 kali sehari pula aku harus dimotivasi. Jika tidak, maka adzan tidak akan berkumandang. Namun jika orang seperti Heru yang dipercaya untuk mengumandangkan adzan, maka adzan akan berkumandang tepat pada waktunya setiap waktu karena ia memiliki kebiasaan dalam menjalankan tugasnya itu tanpa harus diingatkan atau dimotivasi terlebih dahulu.
Kembali lagi pada cerita sebelumnya, smester pertama aku memang berhasil, namun aku gagal di kelas 11 karena hilangnya lingkungan motivasi tadi, guru ku bukan lagi guru kelas 10, hingga tidak ada lagi sosok yang memberiku motivasi belajar. Ditambah lagi dengan sifat malasku yang kembali merajalela, nilai kimia ku berubah menjadi 5. Yang sebenarnya menurutku masih terlalu tinggi untuk ukuran orang malas sepertiku. Keseharianku pada waktu itu bukan belajar, aku tidak membiasakan diri untuk pulang ke rumah sepulang sekolah, kebiasaanku adalah main dan pacaran hingga larut malam, setelah itu baru aku pulang ke rumah dan tak sempat belajar, yang ada hanya rasa lelah dan mengantuk. Hingga pada akhirnya aku terbiasa mengerjakan PR di sekolah, itu pun mencontek. Di akhir tahun barulah aku menyesal, mengapa aku tidak menanamkan sifat membiasakan diri menyelesaikan tugas dan belajar minimal 1 atau 2 jam sehari di rumah. Jika seperti itu, mungkin aku tidak akan jatuh seperti ini. Smester 4 aku dihadiahi 3 remedial pelajaran IPA.
Ke mana temanku, Heru. Ternyata dia aman dengan memegang prinsip kebiasaannya itu. Cerita di atas sungguh memberikan pelajaran yang berharga untuk kita. Bagiku ia adalah seorang inspirator, yang mengajarkanku arti arti kecil dari berbagai macam hal positif. Mulailah dengan membuka buku, lalu membacanya, walaupun sedikit tapi biasakanlah lakukan hal itu setiap hari secara kontinyu. Prinsip seperti itulah yang akhirnya menginspirasiku untuk membuka perpustakaan kecil di kamar rumahku. Aku mengisinya satu demi satu buku di akhir bulan dengan menyisihkan sebagian uang saku ku.